PEWS04PL3

Open Veins of Latin America berisi sejarah penjajahan dan penjarahan besar-besaran di Amerika Latin oleh para penjajah sejak abad ke-15. Pada mulanya Amerika Latin adalah tempat yang makmur dengan penduduk yang memiliki ekspresi seni adiluhung. Seperti dicatat oleh Galeano, misalnya di kota Potosi (berlokasi di Bolivia yang sekarang) dulunya adalah kota yang sangat besar dan megah, bangunan-bangunan mereka bertahtakan perak belaka, kehidupan begitu semarak di kota itu, siang malam dipenuhi keriangan, dan kota tenggelam dalam pesta dan cinta khas Amerika Latin. Berdasarkan sensus pada tahun 1573 kota itu memiliki penduduk sebanyak 120.000 jiwa. Ini berarti pada saat itu populasi Potosi kurang lebih sama dengan populasi London, melebihi Sevilla, Madrid, Roma, bahkan Paris, atau lebih ekstrim, pada saat yang bersamaan nama Boston belum ditemukan orang. Dan semuanya berubah ketika conquestador datang.

Sejak penemuan benua ini oleh Columbus pada akhir abad ke-15, ekspedisi demi ekspedisi silih berganti menuju Amerika Latin. Hal yang menjadi sasaran utama orang-orang Portugis dan Spanyol tentu saja adalah emas dan perak yang melimpah ruah dan keadaan alam yang indah. Ketika pertama kali berlabuh di atol San Salvador, Columbus langsung jatuh hati pada laut Karibia yang transparan, lanskap hijau yang membentang sejauh mata memandang, udara yang lembut dan bersih, burung-burng ajaib dan para anak muda dengan muka indah tertatah.

Orang Indian seperti bangsawan Montezuma yang tersohor, sebenarnya terpengaruhi oleh kepercayaan lokal mereka bahwa conquestador yang datang adalah reinkarnasi dari Quetzalcoatl, Dewa mereka yang agung. Mereka ketakutan dengan tubuh-tubuh yang tinggi dan rambut pirang sebagian conquestador, dan juga jenggot-jenggot mereka yang panjang. Hal ini memperkuat dugaan para sejarawan bahwa sebenarnya jauh sebelum Columbus menginjakkan kakinya di Amerika Latin, telah ada orang Eropa yang sampai di sana sebelum itu, pada siapa para Indian mengidentifikasi Quetzalcoatl. Itulah awal conquestador menancapkan taring mereka pada kerongkongan Amerika Latin, dan belakangan diikuti oleh AS.

Berton-ton perak dan emas diangkut dari Amerika Latin ke Eropa. Pada pertengahan abad ke-17, dengan Potosi sebagai pusat tambang perak, lebih dari 99% komoditas ekspor dari “Amerika-Spanyol” ini adalah perak. Pada antara tahun 1503 sampai dengan 1660 saja tercatat sebanyak 185.000 kilogram emas dan 16 juta kilogram perak tiba di pelabuhan Sanlukar dan Barrameda, Spanyol. Dan tentu saja catatan klerek tentang metal yang dihasilkan oleh Amerika Latin ini bukanlah angka faktual mengingat, seperti diungkapkan Galeano, banyak kapal pembawa emas dan perak dari Amerika Latin yang berlayar ke Philipina, China dan Spanyol sendiri yang tidak tercatat.

Selain datang dan menjarah hasil bumi, para penakluk dari Eropa ini juga membawa serta bibit-bibit penyakit bersama mereka. Bakteri dan virus adalah senjata yang paling efektif untuk memusnahkan penduduk lokal. Seketika orang-orang Eropa mendarat di Amerika Latin, seketika itu pula berjangkit wabah penyakit, seperti tetanus, trakoma, tipus, kusta, demam dan batuk. Rupanya para Indian tidak memiliki antibodi terhadap virus dan bakteri yang dibawa serta oleh para penakluk dari Eropa itu. Antropolg Brasil, Darcy Ribeiro, memperkirakan bahwa lebih dari separuh penduduk lokal, baik itu Indian di Amerika atau Aborigin di Australia dan Oseania, terserang wabah penyakit dan mati pada kontak pertama mereka dengan orang kulit putih.

Conquestador juga membunuh penduduk lokal laiknya babi yang buta. Sebut saja Pedro de Alvarado yang menaklukkan Guatemala dengan membunuh begitu banyak Indian sehingga darah menganak sungai. Secara total sejak “penemuan” benua ini, Spaniard telah memusnahkan penduduk lokal sekira 95% pada satu setengah abad pertama pendudukan mereka dengan berbagai cara seperti perang, perbudakan dan penularan penyakit. Karena itu tak diragukan lagi bahwa genosid adalah salah satu strategi Spanyol dalam melakukan penaklukan.

Pada abad belakangan AS hadir melalui perusahaan-perusahaan minyaknya yang beroperasi di Amerika Latin seperti Standard Oil of New Jersey (sekarang Exxon). Harga minyak dimanipulasi sedemikian rupa dalam skala internasional agar tetap dapat mempertahankan pajak yang murah, sementara industri hilir semakin mahal hitungannya. Dalam bisnis minyak ini, negara-negara kaya sebagai importir minyak mendapatkan kuntungan yang jauh lebih besar dibandingkan yang diperoleh negara-negara miskin sebagai produsen. Perbandingannya hampir tidak masuk akal, 10 berbanding 1.

Untuk setiap 11 dollar AS, negara produsen hanya mendapatkan total 1 dollar AS untuk pajak dan biaya ekstraksi, sementara negara maju yang menjadi pusat perusahaan-perusahaan raksasa menikmati 10 dollar AS yang lainnya melalui bisnis transportasi, pengilangan, pemrosesan dan distribusi.

Dalam menjalankan bisnisnya AS tak ragu-ragu melakukan operasi intelijen apabila mendapatkan perlawanan dari pengusa lokal seperti Salvador Allende.
Naomi Klein (The Shock Doctirne, 2007) menyatat bahwa kudeta yang dilakukan terhadap Salvador Allende didukung habis-habisan oleh Amerika Serikat. Ditandai dengan pemberian beasiswa besar-besaran bagi mahasiswa Chile untuk belajar ekonomi di Departemen Ekonomi, Universitas Chicago, pusat aliran ekonomi neoliberal dengan salah satu staf pengajarnya: Milton Friedman. Alumni departemen ini kemudian akrab dikenal dengan “Chicago Boys”.

Geng Chicago Boys inilah kemudian yang mengelilingi diktator Jenderal Augusto Pinochet (pengganti Allende) dalam menjalankan ekonomi neoliberal di Chile. Segera setelah Pinochet naik tahta, maka Chile menjadi laboratorium pertama eksperimen semua teori ekonomi neoliberal Friedman yang ditandai dengan tiga resep utama: privatisasi, deregulasi dan pemotongan anggaran untuk pelayanan publik.

Cara kerja seperti ini bukan hanya terjadi di Chile, tetapi juga di Brasil. Jenderal Humberto Castello Branco mengambil alih kekuasaan pada tahun 1964 dari tangan Joáo Goulart yang memiliki kebijakan pro rakyat miskin. Dan Chicago Boys-lah yang menyusun rencana untuk membuat Brasil terbuka seluas-luasnya bagi investasi asing.

Mengingat berat beban sejarah yang betapa, maka wajar bila Obama tidak sanggup menatap mata Chavez ketika mereka mau bersalaman seperti yang terlihat pada foto yang hampir pasti akan menjadi legenda itu. Dan buku Open Veins of Latin America ini tampaknya, setelah seperempat abad lebih sejak ia diterbitkan pertama kali, akan kembali mengantarkan Galeano berkomunikasi dan berkomunike dengan pembacanya, persis seperti apa yang ia tuliskan dalam bukunya yang lain Days and Nights of Love and War, “seseorang menulis karena kebutuhan untuk berkomunikasi dengan yang lain.” Hanya saja kemungkinan besar kali ini ia datang menemui pembaca yang secara numerik akan jauh lebih besar dari sebelumnya.

Bosman Batubara, Jogja, pertengahan 2009.