imagesMengingat kembali pelajaran di Sekolah Menengah Atas ada dua tingkat perkembangan manusia terkait dengan hubungan manusia dengan alam yakni:

  1. Manusia yang menganggap alam dengan takjub dan dibawah kendali alam
  2. Manusia modern yang menguasai alam. (selengkapnya baca http://benvika-cercahanrasio.blogspot.com/2011/02/induksi-bacon.html)

Tentu saja menusia yang baik menurut mata pelajaran tersebut adalah manusia yang ilmiah dan mendominasi alam sebagaimana dikatakan Francois Bacon. Hal ini adalah cara berpikir bagaimana manusia dapat melakukan eksperimen dengan maksud mengetahui rahasianya dan menggunakan secara penuh untuk mendominasi atas keseluruhan alam tersebut dan juga atas orang lain. Cara berpikir ini kemudian yang melahirkan realisme kepala batu dan positivism yang kita kenal sekarang. Sadar atau tidak ini juga berpengaruh pada lapangan hokum dan ilmu-ilmu social lain. Segala alam di dunia ini dianggap sebagai objek yang harus ditaklukan sepenuhnya atas dasar perhitungan reasoning atau rasionalisasi yang kadang menghilangkan pola-pola keseimbangan hubungan berganda manusia dengan alam. Masyarakat yang tertata rapi dalam pola-pola rasionalisasi tersebut yang disebut oleh Adorno sebagai Masyarakat administrasi total atau oleh Marcuse sebagai manusia satu dimensi akan mengalami kelumpuhan dan kemandekan (pembusukan) dalam perubahan social.

Dengan cara berpikir seperti tersebut diatas maka tidak mengherankan bahwa masa depan pembangunan modern adalah masalah lingkungan dan timbulnya kelas anarkis berkuasa. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Indonesia dinilai sebagai pemerintahan paling transparan di asia bersama dengan Korea Selatan dan Philipine karena memiliki instrument hokum dan kemauan pemerintah untuk melakukan transparansi budget. Namun disisi lain Indonesia adalah pemerintah terkorup di asia. Dengan demikian bekerjanya instrument legal dan kemauan pemerintah tidak menjamin adanya pemerintahan yang baik jika kita dapat melihat hal tersebut sebagai sebuah rasionalisasi. Bekerjanya elemen-elemen intelektual non organic seperti LSM, Lembaga Desa, Pers dan budayawan harus dapat membokar mesin administrative tersebut.

Masalah lingkungan yang secara rutin menghampiri wilayah kebumen seperti banjir sekarang harus kita cermati juga penyebab-penyebabnya dan kerugian yang di timbulkan. Dari pengetahuan local masyarakat diantaranya adalah pendangkalan sungai dan derasnya curah hujan. Bahwa benar usaha pengerukan yang dilakukan tahun-tahun sebelumnya setelah adanya banjir bandang pada tahun 1999 kebumen menjadi aman akan banjir. Namun hal tersebut tidak diimbangi dengan pelestarian alam seperti DAS dan daerah kebumen utara sebagai resapan hal itu menjadi sia-sia. Berkurangnya kekuatan resapan daerah utara dari pengetahuan local masyarakat sadang dapat menilai jika dahulu mereka pernah tidak mengalami kekurangan air selama musim kemarau paling banter hanya 1 bulan saja mereka harus mencari di tempat yang jauh untuk mendapatkan air bersih. Sedangkan sekarang sumber air di sadang hanya bertahan paling lama satu bulan selama musim kemarau. Sumber local menyebutkan penggantian tanaman keras seperti jati menjadi pinus menjadi biang penyebabnya, karena menurut warga sadang tanaman pinus akarnya tidak dapat menyerap seperti tanaman jati yang merupakan habitat aslinya di kawasan kars. Jika menimbang pada banjir besar yang terjadi pada tahun 1999 hal tersebut juga tidak terlepas dengan aksi pembalakan liar pada tahun sebelumnya ketika reformasi berlangsung; moment itu di ekspresikan dengan ketidakpuasan pengelolaan yang tidak adil bagi masyarakat dengan pembalakan liar. Masyarakat tidak sepenuhnya salah karena dalam pengelolaan hutan tidak ada pelibatan dan peningkatan taraf hidup masyarakat moment pembalakan liar hanyalah letupan ketidakpuasan masyarakat. Maka dengan hal tersebut kita dapat melihat adanya korelasi antara kerusakan lingkungan dan bencana alam yang keuntungan ekonomisnya tidak sepadan kerugian yang dialami oleh perekonomian masyaraka(lihat  http://www.formasi.org/kerugian-petani-di-desa-kalipurwo-dan-desa-pesuruhan.html.) Dengan hal ini saya sangat berharap bahwa kemudian ada upaya serius dari pemerintah untuk menjaga kelestarian alam dalam pembangunan yang berkelanjutan. Cara berpikir pemerintah haruslah berubah kembali kepada hubungan harmonis manusia dan alam. Sebagai manusia yang lahir di tahun 1980an saya harap cerita mata air yang tidak pernah kering di pegunungan dan adanya kedung (bagian sungai yang tidak pernah kering) di sungai jawa tidak hadir sebagai dongeng yang diceritakan oleh orang tua.