Hasil Penelusuran penyebab kemiskinan masyarakat di Kebumen yang dibagi berdasarkan 5 bidang (assesment di komunitas Desa dari 5 Claster) di Kabupaten Kebumen :

Claster
1. Bonorawan
2. Pesisir
3. Pesisir Pegunungan
4. Perkotaan
5. Pegunungan

Bidang
1. Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan
2. Industri dan Perdagangan
3. KB dan Kesehatan
4. Pendidikan dan Kebudayaan
5. Sosial dan Tenaga Kerja
6. Pemerintahan

Kelompok isu per bidang penyebab kemiskinan
NO BIDANG HASIL PENELUSURAN
1 Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan Rendahnya hasil pertanian. penyebabnya adalah :
• Sulit memprediksi musim,
• Sulitnya memperoleh pupuk (akibat minimnya stok pupuk KUD sebagai distributot tunggal)
• pengurangan subsidi pemerintah pada benih dan pupuk kimia
• minimnya penyuluhan dari pertanian
Tidak berimbangnya antara biaya tanam dengan hasil panen (persoalan pasca panen) yang disebabkan oleh:
• Tidak adanya standar harga produk baku ,
• Tidak mampunyai akses pasar kualitas belum standar
• Kendala transportasi ( geografis )•
Kurangnya/tidak adanya air irigrasi disebabkan oleh:
• tak ada dan berkurangnya sumber air permukaan serta tak ada saluran air irigrasi,
• kemarau yang panjang,
• adanya sumber air yang digunakan untuk air bersih (air minum),
• pembuangan sampah sembarangan,
• pembagian air tak teratur dan kebocoran saluran mengakibatkan produktifitas lahan menurun.

Pola pertanian masih bersifat tradisional, sehingga petani tak dapat mengoptimalkan pengolahan lahan pada saat musim hujan atau sering terlambat tanam yang akhirnya produktifitasnya rendah
akibat adanya kepemilikan lahan pertanian yang terbatas dan sempit karena:
• kondisi lahan pegunungan
• kurang produktif dan dijual sehingga bekerja menjadi buruh tani/lepas dengan pendapatan rendah
tidak dimilikinya ketrampilan secara spesifik, sehingga mutu yang dihasilkan tidak dapat memenuhi tuntutan pasar.
2 Industri dan Perdagangan Adanya keterbatasan permodalan, sehingga warga tidak dapat memenuhi pesanan dalam jumlah yang besar
tingginya biaya operasional untuk kerajinan ornamen batu hias, sehingga kebanyakan warga miskin hanya mampu sebagai buruh
banyaknya usaha yang sejenis, sehingga terjadi persaingan tidak sehat dalam pemasaran hasil produksi, hal ini menyebabkan usaha kecil semakin terpuruk dan akhirnya usaha terhenti karena kalah dalam penentuan harga.
Belum adanya lembaga yang menampung dan mengorganisir pemasaran, sehingga pemasaran masih dilakukan secara pribadi-pribadi.
Kurangnya penyuluhan dan bimbingan baik dari pemerintah maupun swasta untuk peningkatan kualitas dan kapasitas.

Lemahnya akses permodalan bagi usaha kecil dari lembaga keuangan
3 Kesehatan
fasilitas Pustu kurang maksimal karena hanya ada perawat sementara perawat tidak mempunyai wewenang untuk mendiagnosa penyakit.
sumber air bersih di daerah perbukitan sangat terbatas atau tak ada menyebabkan, kesehatan masyarakat terganggu
Minimnya fasilitas MCK yang dimiliki warga masyarakat khususnya masyarkat miskin
Askeskin banyak disalahgunakan, dalam arti keluarga mampu banyak yang memggunakan.
Minimnya ketersediaan air bersih terutama pada musim kemarau
keluarga kurang gizi sehingga sering sakit-sakitan menyebabkan tak memiliki pekerjaan tetap, maka penghasilannya rendah
Kurang pahamnya kesehatan bagi ibu hamil
Fasilitas terhadap layanan dokter masih sulit didapatkan warga masyarakat khususnya wilayah-wilayah pelosok pedesaan, karena persoalan jarak jangkau.
4 Pendidikan Rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, karena lokasi pendidikan/sekolah (SMP ke atas) yang jauh adanya tingkat pendidikan masyarakat rendah karena:
• Tak adanya minat untuk menyekolahkan pendidikan lebih tinggi (tak ada jaminan untuk bekerja yang lebih baik),
• Tak ada motivasi dan kesadaran orang tuanya (cukup bisa membaca dan menulis saja)
Tingginya biaya pendidikan, yang meliputi :
• sumbangan sekolah,
• baju,
• buku,
• uang saku,
• transportasi dsb.),
menyebabkan biaya untuk menyekolahkan tak terjangkau (hanya SD-MTs/ SMP), yang akibatnya SDM rendah, sehingga lapangan pekerjaan menjadi terbatas, yang menyebabkan bekerja menjadi buruh dengan upah minim.
Masih adanya buta huruf yang menyebabkan masyarakat terbatas pada layanan informasi
Beasiswa yang ada hanya mampu untuk membiayai biaya disekolah, sementara pengeluaran terbesar justru pada biaya operasional harian seperti, transport, kebutuhan buku-buku, seragam, dll.
Beasiswa gakin tidak diterimakan langsung kepada murid, masih dikelola oleh sekolah walaupun biaya sekolah sudah tidak ditarik.
Belum optimalnya kinerja pendidik, disebabkan oleh
• Tempat tiggal guru jauh dari sekolah
• Masih kurangnya kapasitas guru
• Menurunnya spirit seorang pendidik
5 NAKERTRANSOS
adanya keterbatasan lapangan kerja bagi masyarakat disekitar yang disebabkan oleh:
• batasan jenis kelamin (perempuan),
• kondisi fisik,
• batasan usia,
• kolusi di manajemen pabrik,
• waktu kontrak yang pendek, dan
• belum adanya kebijakan pemerintah daerah yang yang mendukung untuk memprioritaskan warga setempat,
tidak dimilikinya ketrampilan yang sesuai dengan kebutuhan lapangan pekerjaan, sehingga warga jadi tersingkir, hal ini disebabkan ; Pendidikan rendah, akses informasi lemah
Minimnya lapangan pekerjaan terutama di pedesaan, lapangan pekerjaan lebih banyak disektor pertanian dan tidak lebih menjadi buruh tani.
Banyaknya persaingan pencari kerja sementara daya serap peluang kerja yang ada sangat kecil.
Masyarakat tidak memiliki pekerjaan tetap, (buruh tani, serabutan) sehingga upah yang diterima kecil, dan tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup keluarga.
Banyaknya pengeluaran untuk kegiatan sosial (jagong mantenan, tilik bayi, dsb ), terutama pada bulan-bulan tertentu, sehingga hal ini menyedot biaya yang lebih banyak dari pada kebutuhan keluarga.
adanya pendapat orang tua bahwa mumpung masih muda dan sudah “bekerja”, sehingga mendorong untuk kawin muda, yang akhirnya membentuk keluarga miskin ( claster pegunungan )
Lemahnya keahlian pekerjaan sehingga masyarakat menjadi menganggur.

6

Pemerintahan Lemahnya transparansi anggaran di tingkat Desa
Kurangnya keterlibatan masyarakat dalam perencanaan Desa
Pemahaman tentang tupoksi pemdes yang masih lemah sehingga dalam pelayanannya sangat lemah
Optimalisasi penguasaan regulasi tentang Desa
Informasi data supra Desa yang masih belum di informasikan kepada masyarakat sehingga

Berdasarkan pada hasil penelusuran terhadap penyebab kemiskinan di atas, maka dirumuskan permasalahan dasar dari masing- masing bidang penaggulangan kemiskinan adalah sebagai berikut :

Permasalahan dasar penyebab kemiskinan

NO Bidang Permasalahan dasar
1 Pertanian, Perkebunan, Peternakan dan Perikanan • Kurang mampunya petani mengakses Informasi
• Rendahnya pemikiran petani
• Adanya subsidi saprodi yang terbatas
• Belum adanya peraturan tentang sistem bagi hasil pertanian/peternakan
• Prasarana transportasi hasil pertanian keluar dari sentra produksi belum memadai
• Adanya pola kebiasaan petani dan keterbatasan penerapan pola tanam serta pengelolaan pascapanen yang belum memadai
• Adanya ketersediaan lahan terbatas ( claster pegunungan )
• Kurang pengetahuan dan kemampuan pengelolaan lahan yang terbatas
• Adanya tuntutan kebutuhan dasar (pemukiman/perumahan)
• Belum siapnya perubahan masyarakat pertanian menjadi masyarakat non pertanian.
• Kerusakan keseimbangan lingkungan di kawasan sawah dan hutan
• Kurangnya pemenuhan kebutuhan irigasi( Pegunungan, Bonorawan )
• Minimnya peralatan nelayan ( Pesisir )
• Belum adanya jaminan pemasaran hasil budidaya perikanan
• Pengelolaan perikanan belum optimal yang disebabkan bukan menjadi lahan penghasilan pokok.
2 DEPERINDAKOP • Rendahnya kemampuan masyarakat miskin (Iptek, ketrampilan, dan akses informasi) dalam pengembangan bidang industri dan perdagangan
• adanya budaya malu/takut ( minder )
• jumlah penyuluh dan instruktur Deperindakop sangat kurang
• Belum adanya keseimbangan antara pertumbuhan jumlah pedagang dengan sarana yang disediakan pemerintah.
• Kurangnya pengetahuan, kemampuan, ketrampilan dan sifat-sifat pengrajin untuk membuat dan mengembangkan alat pemrosesan pengeringan
• Kurang diberdayakannya Penyuluh ekonomi
• belum adanya perluasan pasar untuk penjualan produk kerajinan (produk jasa, indag, dan pariwisata)
3 Badan Pemberdayaan perempuan dan KB
• Kurangnya diberdayakan Pustu, Polindes dan Posyandu
• Kurangnya alat kontrasepsi (alkon) bagi GAKIN
• KK miskin tak memiliki dana untuk biaya pengobatan dan pembelian makanan bergizi
• Kurangnya pengawasan terhadap pengelolaan limbah industri oleh instansi terkait dan masyarakat
• Kurangnya akses terhadap pelayanan kesehatan di tingkat desa dan kurang intensifnya jadwal Puskesling ke desa
• Belum semua pelayanan kepada masyarakat terpenuhi (Cakupan rawat jalan belum merata)
• Kurangnya sarana dan prasarana yang menunjang mutu pelayanan kesehatan di tingkat desa
• Adanya pendapatan rendah dari keluarga miskin sehingga biaya untuk menyekolahkan tak terjangkau
4 Pendidikan • Sarana pendidikan yang jauh, terutama jenjang SMP keatas yang menyebabkan minat untuk bersekolah rendah.
• Mutu dan hasil pendidikan yang tidak menjanjikan perbaikan hidup
• Motivasi dan kemauan siswa belajar kurang
• Pertumbuhan angkatan kerja yang tak sebanding dengan lapangan kerja ( merantau )
• Lapangan kerja yang tersedia bersifat padat karya sehingga upah rendah
• SDM tenaga kerja rendah sebab pendidikan formal rendah dan skill rendah
• Ketidakmampuan warga miskin untuk mengakses informasi lapangan kerja
• Sulitnya memberantas kasus perjudian dan belum optimalnya peran masyarakat dalam penegakan hukum atau masyarakat membantu menangkap pelanggar hukum (dalam mendukung proses tertangkap tangan tersangka)
• Belum optimalnya kinerja PPNS dan aparat penegak hukum
5 Kesehatan dan lain-lainnya • Belum optimalnya kegiatan penyuluhan UU perkawinan dengan melibatkan tokoh masyarakat, alim ulama, dan stakeholder lainnya, serta lemahnya koordinasi kelembagaan yang terkait dengan perkawinan usia dini
• Belum adanya pendidikan sex sejak dini (kesehatan reproduksi) di kurikulum pendidikan formal sesuai dengan kewenangan dan kompetensinya.
• Adanya budaya kerja (etos kerja) yang rendah; atau memiliki skill rendah dan tak ada kemauan bekerja; atau skill yang dimiliki terbatas dan peluang pekerjaan tak ada
• Belum adanya program yang signifikan untuk penduduk yang marginal