Kehadiran kelompok perempuan marginal dan kaum difabel, di desa Si Kasur kecamatan Belik Kabupaten Pemelang tidak pernah terbersit, karena kelompok ini sebelumnya orang orang yang pasrah dengan keadaan dan nasib menjadi orang kelas bawah atau marginal. pada saat ini memang belum banyak menunujukan kontribusi yang besar dalam menyuarakan aspirasi warga masyarakat dalam perencanaan pembangunan di desa, namun kehadiran mereka dalam setiap pertemuan menunjukan komitmen dan kesungguhan mereka untuk terlibat dan saiap memberikan kontribusi yang cukup signifikan dalam perencanaan pembangunan. Setidaknya dapat menunjukan bahwa mereka kaum marginal dan difabel ada dan harus dikapasitasi sebagi bentuk kepedulian dan penghargaan dan kesamaan hak sebagai warga warga negara.

Identifikasi Permasalahn oleh anggota kelompok Selapanan (difabel)

Masih bersambung cerita tentang difabel yang membuat kerajinan anyaman dari bambu yang pada pertemuan sebelumnya dijanjikan hasil karyanya akan di beli oleh Desa, dan nanti kepala desa yang akan menjualnya sebagi bentuk kepedulian dan penghargaan kepada kaum difabel. Pada pertemuan bulan ini terbukti Sunar (difabel) dengan membawa hasil karyanya sejumlah 10 nampan anyaman bamboo di beli oleh kepala desa dan nampan tadi digunakan sebagai door price oleh kepala desa jika peserta dapat menjawab pertanyaan yang diberikan oleh kepala desa, seputar wawasan kebangsaan dan nasionalisme, misalnya : siapa yang hafal Pancasila…?, siapa yang hafal lagu kebangsaan Indonesia Raya..? dsb.

Kehadiran kelompok ini setidaknya mulai mendapat perhatian dari kepala desa ada harapan dan keinginan yang sama bahwa nantinya kelompok ini dapat menyuarakan aspirasi kelompok difabel dan perempuan marginal sekaligus dapat memberikan kontribusi kepada desa dalam proses pembangunan yang ada di desa sikasur. Melalui aksi spontan dari kepala desa Ini menjadi langkah yang baik untuk penyemangat warga untuk hadir dalam pertemuan, sekaligus perubahan yang lebih baik bagi kepala desa untuk lebih memperhatikan kaum marginal dan difabel yang akan terwujud dalam mata anggaran Desa dan dukungan regulasi untuk keberlanjutan.