GREGET DESA – Kemandirian Tata Kelola untuk Kesejahteraan Desa dalam rangka “Nglanggeran Culture Festival”

urlTempat : Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul, D.I. Yogyakarta
Waktu : Jumat – Minggu, 13 – 15 Desember 2013

Menuju kesejahteraan

  • 1. Menuju negara kesejahteraan harus dimulai dari desa yang sejahtera. Kesejahteraan menjadi tujuan akhir yang akan dicapai dalam pembangunan termasuk didalamnya implementasiprogram penanggulangan kemiskinan. Program dan anggaran yang selama ini selalu tertuju pada desa sebagai suatu pemerintahan paling kecil yang bernama desa.
  • 2. Desa yang kuat adalah desa yang mampu memberdayakan dirinya sendiri dengan kapasitas sosial (social capability) yang dimilikinya untuk keluar dari persoalan yang dihadapi. Memampukan desa dengan memetakan sumber daya yang dimilikinya (ekonomi, fisik, keuangan, SDM, sumber daya sosial dan politik).
  • 3. Kekuatan lokal ini digunakan untuk membangun tata kelola desa secara partisipatif mulai dari proses pendataan warga untuk urusan administrasi, program penanggulangan kemiskinan bahkan sampai pada sistem informasi desa yang memungkinkan warga mengetahui sumber daya apa saja yang dimiliki desa sehingga informasi yang sifatnya dinamis ini adalah miliki warga dan bisa dilakukan perubahan terus menerus.

.

Nlganggeran Culture Festival

  • 4. Salah satu kekuatan lokal yang tumbuh di masyarakat adalah kebudayaan. Menguatkan kebudayaan adalah upaya memastikan nilai-nilai lokal agar tetap tumbuh dan menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan bermasyarakat. Ruh dan nilai kebudayaan inilah yang di ’uri-uri’masyarakat dan akan ditampilkan dalam Nglanggeran Culture Festival.
  • 5. Festival Kesenian dan kirab budaya akan menjadi bagian dari pengembangan budaya lokal untuk memantapkan Nglanggeran sebagai desa wisata.
  • 6. Untuk menunjukkan bahwa Desa mampu bergerak dan berdaya maka seluruh aktivitas kegiatan ini akan dilakukan di Desa Wisata Nglanggeran, Patuk, Kabupaten Gunungkidul.

.

Percaya pada institusi lokal: Memperbaiki data melalui Analisis kemiskinan partisipatif

  • 7. ‘Program penganggulangan kemiskinan yang tidak tepat sasaran’, ‘bantuan yang salah orang’, ‘yang miskin makin miskin yang kaya makin kaya dengan bantuan’ adalah cemoohan yang sering kita dengar dalam implementasi program penanggulangan kemiskinan. Konflik horizontal pun lantas terjadi. Dukuh dan lurah sebagai pimpinan pemerintahan paling kecil yang dekat dengan masyarakat menjadi sasaran.
  • 8. Meski agenda penanggulangan kemiskinan terus di evaluasi dan dilakukan perbaikan namun dari tahun ke tahun masalah data miskin dan validitas data selalu dipertanyakan. Beragam data yang dimintakan informasinya dari warga mulai data BPS/PPLS, susenas, BKKBN dan daerah melakukan wawancara kepada warga untuk menentukan mana yang sejahtera mana yang tidak. Namun lagi-lagi warga hanya dijadikan obyek data. Pada saat turun program penanggulangan kemiskinan, data menjadi bergeser.
  • 9. Mendorong data yang dinamis bukan perkara mudah namun harus terus diupayakan. Beragam inovasi dibuat salah satunya melalui pelaksanaan analisis kemiskinan partispatif yang akan terus menerus di up-date dalam sistem informasi desa yang mulai diterapkan di banyak wilayah di Indonesia, salah satunya di Kabupaten Gunungkidul.
  • 10. Inovasi ini memerlukan kepastian hukum di kebijakan hulu sehingga hilir bisa menyesuaikan. Meneguhkan komitmen bahwa partisipasi dalam pendataan yang dinamis penting untuk memastikan agar program pengurangan kemiskinan tidak salah sasaran perlu dibangun oleh pemerintah maupun warga dan komponen yang bergerak dibidang pengurangan kemiskinan.

.

Sistem Informasi Desa

  • 11. Inisiatif penerapan Sistem Informasi Desa (SID) telah berjalan dan berkembang sejak tahun 2009. Pada tahun 2013, SID telah diujicoba dan diterapkan di lebih dari 200 desa di 5 provinsi, sebagian besar di antaranya bertempat di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah.
  • 12. SID telah dimanfaatkan oleh desa-desa untuk membangun basis data kependudukan dan untuk analisis potensi sumber daya lokal. Ada 6 desa di Kabupaten Gunungkidul, D.I. Yogyakarta yang telah mengujicoba pemanfaatan SID untuk mendukung proses Analisis Kemiskinan Partisipatif (AKP). Sementara di daerah lain, SID telah dimanfaatkan untuk mendukung banyak desa mengelola data untuk beragam isu, seperti pertanian, kebencanaan, pelayanan publik, dan sebagainya.
  • 13. Pengetahuan dan pengalaman antar desa penerap SID dan lembaga fasilitatornya yang beragam penting untuk dihimpun dalam satu forum berbagi dan belajar. Jaringan desa-desa penerap dan pemanfaat SID dengan dukungan para pihaknya masing-masing perlu diwadahi untuk mendapatkan potensi pengembangan manfaat SID yang lebih luas.
  • 14. Dinamika desa secara bertahap dapat diikuti dengan pengembangan aplikasi SID untuk membantu desa dalam mengelola data dan informasi aset/sumber dayanya untuk pembangunan desa. Kini, aplikasi perangkat lunak SID telah mencapi versi 3.1 dan akan terus berkembang, didukung konvergensi dengan beragam media lain, baik yangdigunakan di tingkat desa maupun supra desa.

.

Tujuan :

  • 1. Membangun komitmen bersama atas sengkarut data untuk pengurangan kemiskinan.
  • 2. Menghimpun pengetahuan dari desa untuk menuju tata kelola desa yang baik dalam kerangka penanggulangan kemiskinan
  • 3. Mempertemukan desa-desa penerap Sistem Informasi Desa (SID) dan audit sosial serta AKP dengan para pakar/analis isu yang relevan dengan konteks desa.
  • 4. Memperkenalkan SID dan audit sosial serta AKP kepada desa-desa yang potensial menjadi penerap SID di wilayah D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah.
  • 5. Menampilkan Desa Nglanggeran sebagai salah satu contoh baik desa penerap SID dan AKP.
  • 6. Memperkuat budaya lokal melalui Nglanggeran Culture Festival.

.

Acara :

Pra-Event :

Kamis, 28 November 2013 di UC UGM, Yogyakarta

1. FGD 2 – Road Map Pengembangan dan Pemanfaatan SID untuk Jaringan Komunitas dan Isu

Minggu I – II Desember 2013

2. Road show ke media-media

.

Event :

Jumat – Minggu, 13 – 15 Desember 2013 Desa Nglanggeran, Patuk, Gunungkidul

  • 1. Workshop (kelas pembelajaran dan diskusi paralel)
  • 2. Seminar Nasional tentang Pengelolaan Data dan Informasi Desa untuk Program Penanggulangan Kemiskinan
  • 3. Launching film dan nonton bareng
  • 4. Kirab budaya dan Festival kebudayaan
  • 5. Media center

.

Peserta Undangan:

  • 1. Pemerintah pusat (Kemenko kesra, TNP2K, BPS)
  • 2. Pemerintah daerah di D.I. Yogyakarta dan Jawa Tengah
    • D.I. Yogyakarta: Gunungkidul, Sleman, Bantul, Kulon Progo, Yogyakarta (5 daerah)
    • Jawa Tengah: Klaten, Magelang, Boyolali, Temanggung, Kebumen, Purbalingga (6 daerah)
  • 3. Desa-desa penerap AKP, SID di D.I. Yogyakarta, Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur
  • 4. Jejaring Aliansi Strategis Pengurangan Kemiskinan (http://sapa.or.id)
  • 5. Jaringan organisasi/Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) fasilitator penerapan SID1
  • 6. Akademisi

.

Penyelenggara:

sumber: http://lumbungkomunitas.net/2013/12/20131213-15-greget-desa-dan-nglanggeran-culture-festival/