KEBUMEN – Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kebumen mendorong adanya program kemiskinan berbasis kawasan. Penanganan itu difokuskan pada wilayah yang masuk deretan termiskin.

Di kabupaten berslogan Beriman ini terdapat di tiga kecamatan yakni Karanggayam, Sadang, dan Puring. Masyarakat di tiga kecamatan tersebut pendapatan per kapitanya masih di bawah Rp 500 ribu per bulan. Dan urutan terbuncit di Kecamatan Karanggayam.

”Kami akan pikirkan skema yang tepat untuk rencana program tersebut,” kata Presidium Formasi Kebumen Yusuf Murtiono. Dikatakannya, masing-masing wilayah memiliki potensi tersendiri. Termasuk kecamatan termiskin di Kebumen, yakni Karanggayam.

Di wilayah itu dikenal sebagai penghasil tembakau. Budi daya tanaman tembakau pun dilakukan petani setempat. Jadi, kalau penanggulangan kemiskinannya mengabaikan potensi lokal, menurut Yusuf belum tentu masyarakatnya siap.

Penanganan kemiskinan ini pun diharapkan tidak berbenturan dengan program Bupatii Yahya Fuad yang mengampanyekan antirokok selama seratus hari pemerintahannya ini.

Di mana program kampanye antirokok yang diketuai Wakil Bupati Yazid Mahfudz itu dianggap sebagai salah satu upaya penanggulangan kemiskinan. Mengingat, 70 persen perokok dari masyarakat miskin.

Petani Tembakau

Hal itu juga sempat disampaikan langsung oleh Bupati Yahya Fuad dan Wakil Bupati Yazid Mahfudz saat berkunjung di Markas Formasi beberapa waktu lalu.

Untuk itu, skema apa yang tepat dalam program kemiskinan berbasis kawasan nanti, Yusuf Murtiono akan membicarakan lebih lanjut dengan pihak terkait.

Dikatakan Yusuf Murtiono, dengan adanya program kemiskinan berbasis kawasan nanti tentu akan meningkatkan kesejahteraan petani tembakau di Karanggayam.

”Dan ketika petani tembakau kaya, bukan berarti karena mereka tidak merokok,” jelasnya. Selama ini, Formasi yang fokus pada pemberdayaan masyarakat desa telah membekali kepala desa dan perangkatnya melalui Sekolah Desa dan Anggaran (Sadar).

Sekolah yang didirikan sejak 2010 itu, bahkan telah diikuti sejumlah daerah di Indonesia. Materi yang disampaikan, antara lain filosofi desa, tata kelola pemerintahan desa, perencanaan, penganggaran, serta membuat peraturan yang partisipatif.

Ada juga materi mengenai badan usaha milik desa serta public speaking. Sekolah itu mampu membuka kesadaran desa. Dan penerapan dari Sadar tersebut menjadi percontohan nasional. Di wilayah Karanggayam pun mulai diaplikasikan. Misalnya Desa Logandu yang dipimpin Sarlan.

Selain mengalokasikan APBDes untuk penanggulangan kemiskinan sesuai amanat Perda, Desa Logandu juga berinovasi dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat setempat. Seperti menyediakan sewa mesin sedot air untuk mengatasi masalah pertanian. (K5-32)

Source : Suara Merdeka