buyar

KEBUMEN – Bupati Kebumen H Buyar Winarso SE didampingi Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kebumen dr H A Dwi Budi Satrio MKes meninjau Dusun Bulusari, Desa Madurejo Kecamatan Puring yang terisolasi karena banjir, Minggu (22/12) itu dengan menaiki perahu karet. Namun kunjungan itu sempat mengalami kendala karena mesin perahu karet mati di tengah banjir cukup lama. Sambil diperbaiki Bupati dan Kalak BPBD pun ikut mendayung perahu secara manual. “Mesin perahu mati karena terlalu panas, karena dioperasionalkan tanpa berhenti sejak dua hari,” ujar Budi Satrio yang mendampingi Bupati. Dusun yang dihuni oleh 150 warga tersebut juga terdapat dua wanita hamil. Mata pencaharian warga di dusun tersebut merupakan petani kangkung. Ketika musim kemarau dusun tersebut hanya dihubungkan satu jalan sehingga begitu jalan tertutup air, warga terisolasi. Masalah lain di dusun tersebut tidak punya sumber air bersih. Sebelum banjir warga biasanya menggunakan air kemasan yang dibeli di Desa Sidobunder sekitar 2 km. Guna mengatasi hal itu, BPBD menyiapkan perahu karet yang dioperasikan oleh relawan terlatih selama 24 jam. “Pengiriman air kemasan, makanan siap saji, selimut dan menyiap mesin penjernih air yang dipasang di Desa sidobunder,” imbuhnya. Dari data di BPBD desa yang terdampak banjir cukup parah meliputi Desa Sugihwaras, Kecamatan Adimulyo, dengan total pengungsi 100 keluarga. Pengungsi tersebar di rumah panggung dan balai desa Sugihwaras, kecamatan Adimulyo, dengan total pengungsi 100 keluarga. Pengungsi tersebar di rumah panggung dan balai desa. Desa Madurejo, Sidobunder, Sidodadi, Kecamatan Puring yang mengungsi di balai Desa Sidobunder. Desa/Kecamatan Bonorowo yang mengungsi di balai desa mencapai 70 orang. “BPBD mendirikan dapur umum di Desa Sugihwras untuk melayani empat desa di kecamatan Puring,” ujarnya.

Selain Desa Madurja Bupati, bersama Anggota Dewan Miftah dari Fraksi PKB Juga mengunjungi Desa Pesuruhan, Kecamatan puring untuk meninjau tanggul yang mulai longsor dan terancam jebol dan juga Jembatan yang menghubungkan Desa Weton Kulon dan Pesuruhan teranjam ambruk. Akibat dari jebolnya tanggul dapat mengakibatkan terendamnya pemukiman . Namun hingga saat ini tanggul yang longsor tersebut belum mendapat bantuan tetapi warga dan pemdes bahu-membahu untuk penahan dengan sistem Sasak (dua sisinya ditahan dengan lembaran anyaman bambu). Sedangkan jembatan yang ambrol mulai hari kemarin 24 desember 2013 mulai mendapat penanganan darurat yang sampai sekarang masih berlangsung