Desa Yosorejo Kecamatan Petungkriyono Kabupaten Pekalongan merupakan salah satu desa yang menjadi desa dampingan program Akuntabilitas Sosial dan Partisipasi Masyarakat (SAPP – FORMASI – TAFF). Beberapa pertimbangan penunjukan lokasi desa ini diantaranya adalah desa dengan lokasi strategis (ibu kota kecamatan), tingkat kemiskinan tinggi dan manajemen pemerintah / aparat desa masih lemah. Desa yang berada  tepat di ibukota kecamatan ini memiliki 5 Dusun yaitu Mudal, Dranan, Sikucing, Candi dan Garung. Secara geografis Desa Yosorejo merupakan desa pegunungan dengan jarak lokasi 4 dusun lain dan pusat pemerintahan desa, yang berada di dusun Mudal cukup jauh dengan kondisi wilayah perbukitan. Dengan dusun yang termasuk kategori jauh adalah dusun Sikucing & Dranan. Kondisi jarak dan kondisi geografis perbukitan ini menyebabkan partisipasi kegiatan masyarakat di Desa Yosorejo relatif kecil, terutama untuk dusun-dusun yang lokasinya jauh dari balai desa, hal ini juga lebih diberikannya penekanan bahwa delegasi dusun kebanyakan adalah laki-laki dan elit desa/dusun. Hal ini lebih memperlebar jarak bagi kaum marginal (perempuan, RTM & difabel) dalam kegiatan pembangunan di tingkat desa.

Diskusi kelompok mengidentifikasi permasalahan pendidikan, kesehatan dan adminduk

Salah satu rangkaian kegiatan lanjutan dari kelompok pro marginal (RTM, perempuan dan difabel) adalah pertemuan rutin selapanan. Yaitu pertemuan yang disepakati oleh anggota kelompok setiap selapan (35 hari) menurut perhitungan jawa. Anggota kelompok ini adalah delegasi dusun (local champhion) yang sudah dipilih dan disepakati oleh masyarakat saat pelaksaan musyawarah ditingkat dusun (musdus) dengan jumlah local champhion perdesa 40 – 45 orang.  Kegiatan ini akan diisi dengan pengutan kapasitas dan diskusi mengenai pembangunan desa dan partisipasi masyarakat terutama dalam mendorong pemenuhan pelayanan dasar (pendidikan, kesehatan dan administrasi kependudukan)

Partisipasi dalam kegiatan di kelompok pro marginal, masyarakat Desa Yosorejo termasuk punya semangat dan keinginan belajar yang tinggi. Hal  ini dapat diliat saat kegiatan pertemuan selapanan yang dilakukan pada 13 Juni 2017. Walaupun dilaksanakan pada saat puasa, tingkat kehadiran peserta local champhion saat itu cukup tinggi. Dari jumlah delegasi yang berjumlah 40 orang, hanya 5 yang tidak bias menghadiri kegiatan selapanan. Sehingga jumlah peserta yang hadir saat itu 35 peserta.

Yang lebih membanggakan dari antusiasme masyarakat ini adalah 29 peserta yang  hadir dalam kegiatan selapanan tersebut mereka berangkat dan pergi dengan berjalan kaki. Hal ini dikarenakan kebanyakan dari mereka yang masuk kategori tidak mampu sehingga mobilitas mereka dengan jalan kaki. Padahal jarak yang ditempuh dari lokasi pertemuan (balai desa) kerumah / dusun masing masing peserta cukup bervariasi. Kisaran jarak terjauh dari Balaidesa ke Dusun Sikucing +/- 5 KM dengan perjalanan jalan kaki sekitar 1 jam. Salah satu peserta yang berasal dari Dusun Sikucing, Ibu Slamet Syukur menyampaikan bahwa dia dan beberapa delegasi dari dusunnya rela jalan kaki ke balaidesa selama sekitar 1 jam, karena ingin belajar dan memajukan pembangunan di desa & dusunnya. Karena selama ini kesempatan itu belum pernah didapatkannya. Hal yang sama juga disampaikan oleh Ibu Eriyani salah satu peserta dari Dusun Dranan, yang juga berangkat ke balai desa dengan jalan kaki, dan saat itu ternyata dia juga dalam keadaan hamil muda. Sedangkan jarak terdekat yang juga peserta selapanan juga berjalan kaki adalah Dusun Garung +/- 2 KM dengan jarak tempuh perjalanan 20 – 30 Menit. Tentu saja dengan kondisi geografis yang naik – turun (pegunungan) dan saat ini kondisi mereka berpuasa. Namun selama proses pertemuan dan musyawarah terlihat semangat dan antusias dari masing-masing peserta selapanan dalam mengikuti diskusi dan paparan dari narasumber. Hal ini lebih dikarenakan selama ini mereka jarang dilibatkan dalam kegiatan pembangunan dan pemberdayaan di desanya.

Sikap dan semangat dari Ibu Slamet Syukur dan Ibu Eriyani ini tentu saja sangat penting dan berpengaruh bagi kegiatan pembangunan dan keterlibatan kaum marginal didusun dan desanya. Karena mereka dapat mendorong sekaligus kader pelopor dalam kegiatan pembangunan di desanya. Kalau dulu mereka merasa acuh terhadap pembangunan di desanya, saat ini semangat untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan dan memperjuangkan hak mereka terutama dalam hal pelayanan dasar sudah semakin besar.