KEBUMEN- APBD Kabupaten Kebumen tahun ini terkuras untuk membangun pasar tradisional. Dana Alokasi Umum (DAU) yang hanya Rp 906 miliar itu sudah digunakan untuk belanja pegawai Rp 872 miliar, sehingga tinggal tersisa Rp 34 Miliar.

Sementara untuk pembangunan Pasar Tumenggungan yang direncanakan mulai Mei mendatang mencapai Rp 48 Miliar. Pembangunan pasar tradisional tersebut menggunakan APBD Murni dan pelaksanaannya selama 7 bulan.

Hal itu yang kemudian disayangkan Presidium Forum Masyarakat Sipil (Formasi) Kebumen, H Yusuf Murtiono.

Menurutnya, kebijakan Pemkab menggunakan APBD Murni dalam pelaksanaan pembangunan Pasar Tumenggungan itu tidak mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah. “Jika dihitung dari DAU dikurangi belanja pegawai, maka ketemunya Rp 34 Miliar. Padahal, untuk revitalisasi Pasar Tumenggungan dananya lebih besar,” tandasnya. Anehnya, lanjut Yusuf Murtiono, pelaksanaan pembangunan pasar yang dikonsep berlantai dua itu tidak bertahap.

Mestinya, dengan melihat kemampuan APBD yang ada saat ini dilaksanakan secara bertahap. Dan, Dinas Perindustrian Perdagangan dan Pengelolaan Pasar Kebumen tidak memaksakan menggunakan dana dari DAU untuk membangun Pasar Tumenggungan.

Tahun ini, pembangunan pasar tradisional juga tidak hanya di Pasar Tumenggungan saja, tetapi juga di 6 pasar tradisional lainnya yakni Pasar Prembun dengan alokasi dana Rp 5 miliar, Pasar Kutowinangun Rp 5 miliar, Pasar Jatisari Rp 3,45 miliar, Pasar Petanahan Rp 4,6 miliar, Pasar Karanganyar Rp 5 miliar, dan Pasar Tlogopragoto, Kecamatan Mirit dengan alokasi dana sekitar Rp 1,6 miliar.

Jika anggaran yang tersisa itu ditambah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp 79 Miliar sekalipun, dana APBD yang tersedia tetap masih terkuras. Akibatnya Pemkab kesulitan untuk melakukan inovasi pembangunan di Kebumen.  (K5-84)