l_e17056389d1d5537a2e9bad9de1f3f34

Pembagian kerja di antara bangsa-bangsa di dunia sama artinya dengan beberapa bangsa memperoleh nasib sebagai pemenang dan bangsa-bangsa lainnya menjadi pihak yang kalah. Bagian dunia kita, kini dikenal sebagai Amerika Latin, terlalu cepat dewasa: Ia memperoleh nasib kekalahannya bahkan sejak masa lampau ketika Renaisans Eropa berlayar menyeberangi samudera dan membenamkan taring mereka di leher peradaban bangsa Indian. Abad demi abad berlalu, dan Amerika Latin makin menyempurnakan perannya. Kita memang tak lagi berada di era mengagumkan ketika mendapati kenyataan bahwa fabel dan imajinasi yang telah lampau itu dipermalukan oleh bencana penaklukan.—lapisan-lapisan emas, gunung-gunung perak. Namun wilayah kita sekarang ini masih bekerja sebagai pekerja rendahan. Ia terus bertahan melayani kebutuhan-kebutuhan wilayah lain, sebagai sumber cadangan minyak dan besi, tembaga dan daging, buah-buahan dan kopi, bahan-bahan mentah dan makanan yang diperuntukkan bagi negeri-negeri kaya yang keuntungannya lebih besar dari sekedar biaya untuk mengkonsumsi semua barang itu dibandingkan keuntungan Amerika Latin dalam memproduksinya. Pajak-pajak yang dikumpulkan oleh para pembeli jauh lebih tinggi dibandingkan harga-harga yang diterima oleh para penjual; dan di atas segalanya, sebagaimana dikatakan oleh kordinator Alliance for Progress Cover T. Oliver pada bulan Juli 1968, membicarakan harga-harga yang adil adalah konsep zaman pertengahan, karena kini kita berada di era perdagangan bebas.

Begitu kebebasan berbisnis makin diperluas, penjara-penjara yang dibangun untuk mereka yang dilumpuhkan dari bisnis itu mesti diperbanyak. Sistem tiang gantungan dari para inquisitor itu berfungsi bukan hanya untuk menguasai pasar eksternal, mereka juga menyediakan pancuran keuntungan dari pinjaman dan investasi asing di dalam pasar-pasar internal yang telah dikuasai tersebut. Di tahun 1913 Presiden Woodrow Wilson mengamati: “Anda mendengar tentang ‘konsesi-konsesi’ kaum kapitalis asing di Amerika Latin. Anda tidak pula mendengar konsesi-konsesi serupa di Amerika Serikat. Mereka bukanlah konsesi-konsesi yang diberikan begitu saja.” Ia begitu percaya diri; “Daftar-daftar konsesi yang diwajibkan … pemberian konsesi berlangsung lewat kondisi seperti ini, dimana kepentingan asing cenderung mendominasi persoalan-persoalan domestik mereka. . . ,” katanya, dan ia memang benar. Seiring dengan ini, kita bahkan telah kehilangan hak untuk menyebut diri kita sebagai orang Amerika, walaupun orang Haiti dan Kuba muncul dalam sejarah sebagai orang baru seabad sebelum para peziarah Mayflower membuang sauh di pantai Plymouth. Sekarang ini, apa yang disebut sebagai Amerika hanyalah Amerika Serikat, wilayah yang kita tinggali adalah sub-Amerika, Amerika kelas dua dengan identitas yang sama.

Amerika Latin adalah wilayah dengan pembuluh-pembuluh darah terbuka. Segala sesuatunya, dari sejak pertamakali ditemukan sampai sekarang, selalu ditransmutasikan ke dalam pusat-pusat di Eropa— atau kemudian Amerika Serikat—, dan semuanya telah pula terakumulasi di pusat-pusat kekuasaan yang jauh. Segala sesuatunya: tanah, buah-buahan, kekayaan mineral di bawah tanah negeri ini, orang-orangnya dan kapasitas mereka untuk bekerja dan berkonsumsi, sumberdaya alam dan sumberdaya manusianya. Metode produksi dan struktur kelas secara suksesif telah ditentukan dari luar untuk tiap-tiap wilayah dengan meremukkan mereka ke dalam roda-roda kapitalisme universal. Tiap wilayah wajib menjalankan sebuah fungsi, selalu demi keuntungan metropolis asing saat itu juga, dan rantai ketergantungan tanpa akhir ini telah meluas nyaris tanpa batas. Rantai ini memiliki lebih dari sekedar dua sambungan. Dalam kasus Amerika Latin ia juga memasukkan penindasan negeri-negeri kecil oleh tetangganya yang lebih besar dan, di dalam tiap-tiap batas negara, eksploitasinya dilakukan oleh kota-kota dan pelabuhan besar atas sumberdaya makanan dan tenaga kerja internalnya. (Empat abad lalu, 16 dari 20 kota paling besar di Amerika Latin sekarang ini telah berdiri dengan tegak).

Untuk mereka yang memandang sejarah sebagai sebuah kompetisi, keterbelakangan dan kemiskinan Amerika Latin hanyalah akibat dari kegagalannya. Kita kalah, yang lain-lainnya menang. Namun para pemenang yang memperoleh kejayaan itu berterima kasih atas kekalahan kita: sejarah keterbelakangan Amerika Latin, sebagaimana dikatakan oleh seseorang, adalah bagian integral dari sejarah perkembangan kapitalisme dunia. Kekalahan kita selalu tersirat di dalam kemenangan pihak-pihak lain; kesejahteraan kita selalu menghasilkan kemelaratan kita sendiri dengan meningkatnya kesejahteraan pihak-pihak lain imperium-imperium dan sekutu-sekutu lokalnya. Dalam alkemi kolonial dan neokolonial, emas berubah menjadi logam biasa dan makanan berubah menjadi racun. Potosi, Zacatecas, and Ouro Preto menjadi gerowongan-gerowongan menyedihkan dari lorong dalam dan hampa yang tak berdaya tempat logam-logam berharga dulu dikeduk, reruntuhan menjadi takdir dari sisa nitrat di Chile dan hutan karet di Amazon. Gula di Brazil Timur Laut dan sabuk Quebracho di Argentina, dan komunitas-komunitas di sekitar danau Maracaibo yang kaya minyak secara menyakitkan sadar akan matinya kesejahteraan anugerah alam yang direbut oleh imperialisme. Hujan yang turun dan mengalir di pusat-pusat imperialis menenggelamkan wilayah pinggiran sistemnya yang sangat luas. Dengan cara yang sama dan simetris, kesentosaan kelas-kelas yang berkuasa kita –berkuasa di dalam, dikuasai dari luar- adalah kutukan keberlimpahan kita yang ditakdirkan hadir sebagai serigala-serigala penderitaan.

Jurang ini makin lebar. Sekitar paruh kedua abad 19 negara-negara kaya menikmati standar hidup 50 persen lebih tinggi dibandingkan negara-negara miskin. Pembangunan memicu ketidaksetaraan: di bulan April 1969 Richard Nixon memberitahu Organisasi Negara-negara Amerika (OAS) bahwa di akhir abad ke-20 pendapatan per kapita Amerika Serikat akan sebesar 15 kali lebih tinggi dari negara-negara Amerika Latin. Secara keseluruhan, kekuatan sistem imperialis bersandar pada perlunya kesenjangan dalam pendapatan, dan kesenjangan ini mengasumsikan dimensi-dimensi yang lebih dramatis. Negara-negara penindas secara mutlak tetap makin kaya—dan akan jauh lebih kaya dalam pengertian yang relatif—lewat dinamika pertumbuhan kesenjangan. “Kantor pusat” kaum kapitalis bisa mengijinkan dirinya sendiri menikmati kemewahan, menciptakan dan meyakini mitos tentang kemakmuran, namun negara-negara miskin di wilayah pinggiran kaum kapitalis tahu bahwa mitos itu tak bisa dimakan. Pendapatan rata-rata warga negara Amerika Serikat 7 kali lipat dibandingkan orang-orang Amerika Latin dan tumbuh 10 kali lebih cepat. Dan rata-rata seakan gampang dalam memandang makin lebarnya jurang antara berlimpahnya kaum miskin dan sedikitnya kelompok kaya di sebelah selatan Rio Grande. Menurut data dari PBB, jumlah total kekayaan yang dimiliki oleh 6 juta warga Amerika Latin di puncak piramida sosial sama dengan jumlah total kekayaan yang dimiliki oleh 140 juta orang di dasar piramida. Terdapat sekitar 60 juta campesinos yang memiliki pendapatan harian hanya 0,25 dollar Amerika. Di titik ekstrem yang lain, para germo kemiskinan memiliki rekening sebesar 5 milyar dollar di Bank-bank Swiss atau Amerika. Untuk makin menyempurnakan penghinaan tersebut, mereka memamerkan kekayaan dan kemakmurannya dalam suatu papan peraga steril dan dalam investasi tak produktif yang menyumbang tidak kurang dari separuh investasi total, modal yang bisa dicurahkan untuk perubahan, perluasan, dan penciptaan sarana produksi yang bisa membuka peluang pekerjaan. Dengan nasib selalu dimanfaatkan oleh konstelasi kekuasaan kaum imperialis, kelas penguasa kita tak mempunyai ketertarikan apa pun dalam menentukan apakah patriotisme tidak mungkin lebih menguntungkan dibandingkan pengkhianatan dan apakah mengemis benar-benar menjadi satu-satunya formula jitu bagi kebijakan internasionalnya. Kedaulatan digadaikan karena “tak ada cara lain” lagi. Alibi-alibi sinis kaum oligarkis mengacaukan impotensi suatu kelas sosial dengan dugaan atas hampanya takdir hidup negara-negara mereka.

Josue de Castro berujar: “Saya, yang telah menerima penghargaan perdamaian internasional, berpikir dengan sedih bahwa tidak ada solusi lain untuk Amerika Latin selain kekerasan.” Di mata badai, 120 juta anak-anak Amerika Latin terhumbalang. Populasi Amerika Latin tumbuh tak seperti di wilayah-wilayah lainnya: ia telah tumbuh tiga kali lipat hanya dalam setengah abad. Setiap menit seorang anak mati karena penyakitan atau kelaparan, namun di tahun 2000 akan ada 650 juta orang Amerika Latin, separuh dari jumlah itu berusia 15 tahun; ini akan menjadi sebuah bom waktu. Di antara 280 juta orang Amerika Latin sekarang ini, 50 juta menganggur atau separuh menganggur dan 100 juta di antaranya buta huruf; separuh dari populasi ini tinggal menggerombol di tempat-tempat kumuh dan jorok. Gabungan dari tiga pasar terbesar di Amerika Latin —Argentina, Brazil, dan Meksiko— berbelanja lebih sedikit dibandingkan Perancis atau Jerman Barat, walaupun jumlah gabungan penduduk mereka melampaui jumlah populasi kedua negara Eropa tersebut. Dalam proporsi penduduknya, sekarang ini Amerika Latin menghasilkan lebih sedikit makanan dibandingkan yang ia hasilkan sebelum perang dunia II, dan pada harga yang tetap terdapat penurunan 3 kali lipat dalam ekspor per kapita sejak berlangsungnya krisis ekonomi dunia tahun 1929.

Bagi tuan-tuan asingnya dan bagi agen-agen komisi kaum borjuis, yang menjual jiwanya pada harga yang bahkan akan memalukan bagi Faust, sistem ini sungguh rasional secara sempurna; namun bukan untuk siapa-siapa, karena makin ia berkembang, makin besar ketimpangan, tegangan, dan kontradiksinya. Bahkan industrialisasi –yang terlambat datang dan memiliki bentuk tak mandiri serta berkoeksistensi secara pas dengan latifundia dan struktur-struktur ketimpangan– membantu menyebarkan pengangguran alih-alih mengatasinya; kemiskinan meluas; kesejahteraan terkonsentrasi di wilayah dimana jumlah para penganggur terus berlipat ganda. Pabrik-pabrik baru dibangun di kantong-kantong pembangunan khusus— Sao Paulo, Buenos Aires, Mexico City— namun masih sedikit tenaga kerja yang diperlukan. Sistem ini tidak meramalkan sakit kepala ringan ini, surplus manusia ini. Dan orang-orang tetap bereproduksi. Mereka bercinta dengan antusias tanpa memikirkan dampaknya. Makin banyak orang yang melata di sisi jalan, tanpa pekerjaan di pedalaman, dimana kekuasaan latifundia makin membesar dengan peluasan lahan-lahan kosong yang dibiarkan tak tergarap, tanpa pekerjaan di kota yang kini menuhankan mesin. Sistem ini memuntahkan manusia. Misionaris-misionaris Amerika Utara menyemai pil, alat bantu pernafasan dan intrauterin, kondom, dan kalender-kalender penuh pengingat, namun memanen anak-anak. Anak-anak Amerika Latin ini secara tanpa henti terus berlahiran, menuntut hak alamiah mereka atas suatu tempat di bawah matahari di tanah luar biasa ini yang bisa memberi pada semua orang apa yang kini disangkal oleh sebagian besar orang itu.

Di permulaan November 1968 secara lantang Richard Nixon menegaskan bahwa Alliance for Progress telah berusia 7 tahun dan bahwa kekurangan gizi serta kelangkaan makanan jusru makin intensif di Amerika Latin. Beberapa bulan sebelumnya, di bulan April, George W. Ball menulis di majalah Life:“Namun paling tidak selama beberapa dekade ke depan, ketidakpuasan bangsa-bangsa yang lebih miskin tidak mengancam kerusakan dunia. Tak mungkin lagi ditampik fakta memalukan bahwa selama generasi demi generasi dunia ini ditempati sekurang-kurangnya dua pertiga penduduk miskin dan sepertiga penduduk kaya. Barangkali ketidakadilan itu terjadi karena kekuasaan negeri-negeri miskin dibatasi. Ball telah mengepalai delegasi Amerika Serikat pada Konferensi Pertama tentang Perdagangan dan Pembangunan di Genewa, dan memilih menentang sembilan dari 12 prinsip umum yang disetujui dalam konferensi itu karena menghilangkan beberapa barang cacat dari negara terbelakang dalam perdagangan internasional.

Pembunuhan manusia lewat kemiskinan di Amerika Latin berlangsung secara rahasia, setiap tahun; tanpa menerbitkan suara sama sekali, tiga bom Hiroshima meledak di atas komunitas-komunitas yang telah jadi terbiasa menderita dengan gigi bertanggalan. Kekerasan sistematik ini tidak tampak namun riil dan meningkat secara tetap: ladang-ladang pembantaiannya tidak dibikin terkenal lewat laporan pers sensasional namun dalam statistik-statistik Organisasi Pangan Dunia (FAO). Ball mengatakan bahwa masih memungkinkan bertindak dengan impunitas karena kaum miskin tidak memicu terjadinya perang dunia, namun sang imperium khawatir: karena tak mampu melipatgandakan makan malam, dilakukanlah segala hal yang bisa meniadakan makan malam. “Perangi kemiskinan, bunuh para pengemis!” beberapa kalimat jenius dengan humor gelap tercoret di sebuah tembok di La Paz. Duri-duri macam apa yang diusulkan oleh anak-anak emas Malthus untuk membantai para calon pengemis sebelum mereka dilahirkan? Robert McNamara, presiden Bank Dunia yang juga ketua Ford dan kemudian menteri pertahanan, telah menyerukan ledakan penduduk sebagai halangan terbesar di Amerika Latin; Bank Dunia, katanya, akan memberikan prioritas pinjamannya pada negara-negara yang menerapkan rencana pengendalian angka kelahiran. McNamara mencatat dengan masygul bahwa otak orang miskin berpikir kurang dari 25 persen dari orang biasa, dan teknokrat-teknokrat Bank Dunia (yang telah dilahirkan) mengatur komputer berdesahan untuk menghasilkan abracadabra berkelok-kelok tentang berbagai keuntungan apabila tidak dilahirkan di muka bumi: “Kalau,” salah satu dari dokumen-dokumen Bank meyakinkan kita, “sebuah negara berkembang dengan rerata pendapatan per kapita sebesar $150 sampai $200 per tahun berhasil mengurangi kesuburannya sebesar 50% dalam periode waktu 25 tahun, tiga puluh tahun kemudian pendapatan per kapitanya akan lebih tinggi sekurang-kurangnya 40% dibandingkan level yang akan dicapai dengan kondisi sebaliknya, dan 2 kali lipat lebih tinggi setelah 60 tahun.” Ujaran Lyndon B. Johnson telah begitu tenar: “Marilah kita bertindak sesuai fakta bahwa kurang dari $5 uang yang diinvestasikan dalam pengendalian populasi sama nilainya dengan $100 yang diinvestasikan dalam pertumbuhan ekonomi.” Dwight D. Eisenhower meramalkan bahwa jika penduduk dunia terus berlipatganda pada angka yang sama, bukan hanya bahaya revolusi akan meningkat, namun akan ada pula penurunan standar hidup semua orang, termasuk standar hidupnya sendiri.

Amerika Serikat lebih peduli dibandingkan negara-negara lain dalam menyebarkan dan memaksakan keluarga berencana sampai ke tempat-tempat yang jauh dari jangkauannya. Bukan hanya pemerintah, Yayasan Rockefeller dan Ford juga memiliki mimpi buruk tentang jutaan anak-anak yang berderap maju dari dunia ketiga laksana titik-titik hitam di horizon. Plato dan Aristoteles telah memikirkan persoalan ini sebelum Malthus dan Mc Namara; di masa kita serangan global ini memainkan peran yang semakin jelas. Tujuannya adalah untuk menjustifikasikan distribusi pendapatan yang sangat tak seimbang di antara negara-negara, meyakinkan si miskin bahwa kemiskinan adalah akibat anak-anak yang harus mereka lahirkan dan besarkan, dan untuk membendung derap maju massa yang marah ini. Sementara sarana intrauterin bersaing dengan bom dan letusan senapan mesin guna menahan laju pertumbuhan penduduk Vietnam, di Amerika Latin ada cara yang lebih higienis dan efektif untuk mematikan para gerilyawan (guerrilleros) sejak di dalam rahim daripada di gunung-gunung maupun jalanan. Berbagai misi Amerika Serikat telah mensterilkan para perempuan di Amazonia, walaupun wilayah ini merupakan wilayah yang didiami penduduk paling sedikit di planet ini. Sebagian besar negara-negara Amerika Latin tak memiliki surplus penduduk riil, sebaliknya, mereka memiliki jumlah penduduk terlalu sedikit. Brazil memiliki jumlah penduduk 38 kali lebih sedikit per mil persegi dibandingkan Belgia, Paraguay 49 kali lebih sedikit dibandingkan Inggris, Peru 32 kali lebih sedikit dibandingkan Jepang. Haiti dan El Savador, wilayah dengan jumlah penduduk besar di Amerika Latin, memiliki kepadatan populasi lebih rendah dibandingkan Italia. Dalih yang disebarkan merupakan penghinaan pada kecerdasan; tujuan utamanya adalah membuat kita marah. Tidak kurang dari separuh wilayah Bolivia, Brazil, Chile, Ecuador, Paraguay, dan Venezuela tak berpenduduk sama sekali. Tak ada sebuah negara pun di Amerika yang pertumbuhan populasinya lebih sedikit dibandingkan dengan Uruguay— sebuah negara dengan penduduk berusia uzur— namun juga tak ada sebuah negara pun di benua Amerika yang penduduknya terus melahirkan beberapa tahun terakhir ini, dengan krisis yang tampaknya akan mengantarkan mereka ke lingkaran pusat neraka. Uruguay kosong melompong, dan lahan suburnya bisa menyediakan makanan bagi orang dalam jumlah tanpa batas dibandingkan mereka yang kini menderita kelaparan dan kemiskinan.

 Sekitar seabad lampau menteri luar negeri Guatemala secara profetis berujar: “Akan ganji jika penyembuhannya mesti berasal dari Amerika Serikat, negara yang telah memberi kita penyakit ini.” Kini karena Progress mati dan terkubur sejarah Sang Imperium mengusulkan, lebih dikarenakan panik daripada murah hati, untuk mengatasi permasalahan Amerika Latin dengan menyingkirkan orang-orang Amerika Latin; Washington memiliki alasan untuk mencurigai bahwa orang-orang miskin tak lebih memilih untuk jadi miskin. Namun mustahil mengharapkan hasil akhir tanpa memperoleh sarana yang diinginkannya. Mereka yang menyangkal pembebasan bagi Amerika Latin juga menyangkal satu-satunya kemungkinan kelahiran kembali diri kami dan dengan begitu membebaskan beban kesalahan pada struktur-struktur yang ada sekarang ini. Anak-anak muda kami jumlah berlipat ganda, tumbuh dan mendengar pertanyaan ini: apa yang ditawarkan suara sistem itu? Sistem berbicara dengan bahasa kaum surealis. Di lahan-lahan kosong ia mengusulkan untuk menghindari kelahiran; di negara-negara berlimpah modal namun dianggurkan ia mengatakan bahwa negara kekurangan modal; ia menyerukan pada para pemilik lahan yang luas untuk melaksanakan reformasi agraria dan pada kaum oligarkis untuk mempraktekkan keadilan sosial. Kami diberitahu bahwa perjuangan kelas hanya ada karena agen-agen asing menggerakkannya; namun kelas-kelas sosial ada dan penindasan seseorang oleh orang lain dikenal sebagai pandangan hidup Barat.; ia menggambarkannya sebagai bantuan pembedahan tulang rusak dari pinjaman dan makin menipisnya kemakmuran akibat dari modal asing; para pelaut melakukan ekspedisi kriminal hanya untuk memulihkan tatanan dan kedamaian sosial; kediktatoran yang dikait-kaitkan dengan Washington menyandarkan fondasinya pada penjara-penjara dengan dalih negara hukum, dan melarang pemogokan serta menghancurkan serikat buruh guna melindungi kebebasan kerja.

Apakah segala hal selain angkat senjata terlarang untuk kami? Kemiskinan tak tertulis di bintang-bintang, keterbelakangan bukanlah salah satu rancangan Tuhan. Tahun-tahun revolusi yang penuh martir telah lewat; kelas berkuasa menanti dan sembari mengumumkan anathema api neraka pada setiap orang. Dalam satu hal kaum sayap kanan benar dalam mengidentifikasikan dirinya sendiri dengan keheningan dan tatanan: inilah tatanan penistaan bagi mayoritas setiap harinya, namun tetap saja merupakan tatanan; inilah keheningan dimana ketidakadilan terus menjadi ketidakadilan dan kelaparan tetap menjadi kelaparan. Jika masa depan berubah menjadi kotak pandora, kaum konservatif memiliki dalih untuk berteriak, “Aku telah dikhianati.” Dan ideolog-ideolog impoten, para budak yang memandang diri mereka dengan mata tuannya, tak menunggu waktu lama untuk ikut berteriak: Elang perunggu dari Maine, yang diturunkan di hari kemenangan Revolusi Kuba, kini dibiarkan terlantar. Sayapnya patah di pintu masuk menuju kota tua Havana. Sejak saat indah di Kuba itu, negara-negara lain telah mengereknya kembali di jalan-jalan yang berbeda atas nama eksperimen perubahan, pengekalan tatanan benda-benda yang kini ada tak lebih dari pengekalan dosa. Pemulihan sumberdaya manusia yang selalu terampas adalah pengekalan takdir kita.

Hantu-hantu semua revolusi yang telah tercekik atau terkhianati lewat sejarah penyiksaan Amerika Latin muncul dalam eksperimen-eksperimen baru, seolah masa kini telah diramalkan dan diturunkan oleh kontradiksi-kontradiksi masa lalu. Sejarah adalah seorang rasul yang menengok ke belakang: Karena dulu seperti itu, dan berlawanan dengan yang seperti itu, ia memaklumatkan apa yang akan terjadi. Dan begitu pula dengan buku ini, yang berusaha mengisahkan despoliasi kita dan pada saat bersamaan menjelaskan bagaimana mekanisme perampasan di masa sekarang beroperasi, akan menghadirkan secara lebih dekat para conquistador di atas perahu kecil dan para teknokrat yang digerakkan oleh mesin jet; Hernan Cortes dan para Marinirnya; agen-agen Kerajaan Spanyol dan misi-misi IMF, dividen-dividen dari perdagangan budak dan keuntungan dari General Motors. Dan juga para pahlawan dan revolusi yang kalah di jaman kita, penderitaan dan kematian serta kebangkitan harapan: pengorbanan-pengorbanan yang gembur. Ketika Alexander von Humboldt menyelidiki tata-kebiasaan penduduk kuno lembah Bogota, ia menemukan bahwa orang-orang Indian menyebut korban upacara-upacara ritual itu dengan nama quihica. Quihica berarti “pintu”; kematian dari setiap korban pilihan membuka pintu menuju siklus 185 bulan yang baru.

[Tulisan ini adalah bagian Pendahuluan dari buku legendaris karya Eduardo Galeano, Open Veins of Latin America, yang sedang saya terjemahkan secara maraton. Dipajang di catatan ini sebagai pengenalan awal eksploitasi gila-gilaan sumberdaya alam Amerika Latin oleh Spanyol dan kemudian Amerika Serikat selama hampir 5 abad. Tujuan lainnya adalah untuk mendorong isu Kedaulatan Sumberdaya Alam yang sedang diperjuangkan kawan2x Nahdliyin dan kawan2x yang memiliki kepedulian pada hancurnya lingkungan hidup kita akibat eksploitasi sumberdaya alam yang sama gilanya dengan Amerika Latin. Apa yang ditulis oleh Galeano mungkin bisa jadi bahan pelajaran berharga bagi kita. Selamat menikmat

Dwi Cipta